Aliran Dana Desa di Pangkas, Topeng Kepemimpinan Mulai Nyata

Screenshot_20260223_165605_TikTok

Bajeng barat7menit.com-Gebrakan pak purbaya menteri keuangan dengan pemangkasan dana desa bukan sekedar kebijakan fiskal, ketika aliran dana desa tak lagi deras. Disitulah mulai terlihat satu persatu wajah kepemimpinan sedang di uji, siapa yang benar-benar mengabdi dan siapa yang sejak awal hanya tertarik pada besarnya dana yang akan di kelola.

Selama ini, dana desa selalu di elu-elukan sebagai simbol keberpihakan negara pada rakyat jelata, desa diberi kewenangan, diberi anggaran, dan diberi ruang untuk membangun, namun di balik semua itu tak bisa dipungkiri ada pula yang melihat jabatan kepala desa sebagai akses terhadap proyek, pengaruh dan jejaring kekuasaan.

Ketika dana besar tersedia, jabatan terasa prestisius, tapi disaat dana dipangkas, romantisme terlihat mulai suram, dititik inilah topeng kepemimpinan mulai nyata.

Banyak kepala desa kini berada dalam tekanan besar, aspirasi masyarakat tetap tinggi, jalan harus diperbaiki, bantuan sosial harus disalurkan, serta program pemberdayaan harus berjalan, namun ruang fiskal mulai menyempit.

Dalam kondisi seperti ini, pemimpin sejati akan berdiri didepan, menjelaskan situasi secara terbuka, menyusun prioritas bersama masyarakat dan memastikan setiap rupiah dipertanggung jawabkan secara transparan.

Sebaliknya , pemimpin yang selama ini nyaman dibalik gemerlap anggaran akan mulai gelisah, tanpa dana besar, ruang manuver untuk pencitraan menyempit. Tanpa proyek fisik yang megah, sulit untuk membangun kerja kesan yang nyata,tanpa “kue pembangunan” yang bisa dibagi, jaringan kepentingan bisa goyah.

Pemangkasan dana desa sesungguhnya membuka satu fakta penting, kepemimpinan tidak diukur dari besarnya dana anggaran, tetapi dari keteguhan integritas. Desa yang kuat bukan dari desa yang paling besar dananya, melainkan desa yang pemimpinnya jujur, akuntabel, dan berani mengambil keputusan tidak populer demi kepentingan bersama.

Situasi ini juga menjadi cermin bagi masyarakat selama ini, apakah kita memilih kepala desa karena visi dan kapasitasnya, atau karena janji proyek dan bantuan? Demokrasi desa sering kali terjebak pragmatisme: siapa yang mampu memberi lebih banyak, dialah yang di pilih, ketika dana menyusut, politik transaksional pun kehilangan daya tawanya.

Dana desa boleh saja dipangkas, namun yang tidak boleh ikut terpangkas adalah komitmen untuk membangun secara partisipatif dan bersih, justru dalam keterbatasan, kreativitas dan gotong royong diuji. Desa yang mampu bertahan bukan yang paling kaya tetapi yang paling solid.

Akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukan sekedar bagaimana menutup kekurangan anggaran, melainkan bagaimana menjaga marwah kepemimpinan. Sebab ketika dana tak lagi melimpah yang tersisa hanyalah karakter.

Dan disanalah terlihat jelas: siapa pemimpin sejati, dan siapa yang selama ini hanya mengenakan topeng.
Pilkades segera dilaksanakan pada tahun ini, siapkah kalian para kandidat calon kepala desa, mempertaruhkan visi dan kapasitas atau hanya mengandalkan transaksional politik untuk sebuah ambisi yang sudah terpangkas.

Editor : Lira